Negeri Ini dibangun
diatas pondasi keberagaman yang mempersatukan. Bhinneka Tunggal Ika menjadi
semboyan yang mempertegas bahwa perbedaan agama,suku,ras,antargolongan itu
saling menguatkan. Namun, akhir-akhir ini terdapat penyerangan beberapa
kelompok dengan mengatasnamakan suku, golongan bahkan agama. Menjaga Bhinneka
bukanlah hal yang mudah, namun pening penting untuk merawat persatuan
Indonesia. Ketika ada upaya memecah persatuan, mampukah masyarakat tetap tenang
dan tak terprovokasi? Sudahkah masyarakat Indonesia dewasa untuk merawat dan
membangun negara yang bhinneka?
Serangan
teror bom terjadi di Gereja Oikumene, Kelurahan Sengkotek, Kota Samarinda,
Kalimantan Timur, Pada Minggu,13 November 2016. Presiden Jokowi yang mendengar
kabar tentang peristiwa pengeboman di Gereja Oikumene, Kelurahan Sengkotek,
Kota Samarinda itu langsung memerintahkan Kapolri Jenderal Polisi Tito
Karnavian untuk mengusut secara tuntas mengenai pelaku pengeboman tersebut (13/11/2016).
Kadiv
Humas Polri Irjen Boy Rafli Amar mengatakan tersangka dalam kasus ledakan bom
molotov di depan Gereja Oikumene, Samarinda, Kalimantan Timur merupakan
pengikut atau berbaiat (sudah menyatakan ikut) kepada Negara Islam di Irak dan Suriah (ISIS). Hal itu
diketahui dari sejumlah barang bukti yang ditemukan. “Iya mereka termasuk
kelompok yang berbaiat (menyatakan ikut) kepada ISIS. Dengan dokumen yang ada,
barang bukti yang ada, mereka dapat dikategorikan,” ujar Boy di Kwitang, Senen,
Jakarta Pusat, Minggu (20/11/2016).
Dalam hal ini terorisme
yang tergabung dalam ISIS yang telah mengebom Gereja Oikumene tersebut bukanlah
tindakan umat beragama, ISIS hanya menggunakan agama sebagai tamengnya. Seseorang
kerap kali menyangkutpautkan terorisme dengan agama, padahal terorisme yang
melakukan pengeboman dengan menggunakan agama sebagai tamengnya bukanlah
tindakan umat beragama dan jelas sekali kalau mereka tidak memahami betul
tentang ajaran agama, karena setiap agama mengajarkan hal yang baik dan tidak
ada agama yang mengajarkan untuk membunuh sesamanya. Seseorang dinilai
baik/buruknya itu tergantung dari tingkah laku atau perilakunya bukan dari
agamanya, karena semua agama mengajarkan hal yang baik. Dalam peristiwa
pengeboman oleh terorisme tersebut masyarakat haruslah pintar untuk tidak
terpancing dan terprovokasi oleh aksi kekerasan tersebut, karena umat beragama
tidak mungkin melakukan kekerasan apalagi sampai kepembunuhan. Terorisme hanya
datang untuk menghancurkan keuntuhan NKRI. Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin
mengatakan penyerangan bom molotov di Gereja Oikumene Samarinda, bukanlah
tindakan umat beragama. “Tindakan seperti itu sama sekali bukanlah tindakan
umat beragama. Tidak ada satupun agama yang mentolerir tindakan kekerasan
seperti itu, apalagi itu dilakukan kepada Rumah Ibadah. Rumah Ibadah itu wajib
kita jaga bersama,”Kata Luqman melalui laman resmi Kementrian Agama, Senin
(14/11/2016). Dalam hal ini masyarakat tentunya harus menanamkan nilai
pancasila dan mengaplikasikan nilai pancasila tersebut ke dalam diri mereka,
dengan begitu masyarakat semakin pintar untuk tidak terpengaruh atau terhasut
oleh kekerasan tersebut yaitu ISIS.
Peranan Pancasila
Pasca
ledakan oleh teroris pada Minggu (13/11/2016) lalu, Gereja Oikumene diberi police
line dan tidak boleh di dekati warga untuk proses pemeriksaan oleh Tim Labfor
Polri dari Jawa Timur. Wapres Jusuf Kalla yang mendengar kabar pengeboman di
Samarinda tersebut mengatakan prihatin atas jatuhnya korban jiwa pada peristiwa
teror bom di Samarinda. Kalla mengatakan aksi teror itu menunjukkan aksi
terorisme cukup banyak di masyarakat. “Ini juga sekali lagi memberikan kita
suatu warning, radikalisme, terorisme masih ada disekitar kita yang cukup
banyak,”Kata Kalla, di kantor Wapres, Jakarta, Senin, 14 November 2016. Kalla
mengatakan menekan radikalisme dapat dilakukan dengan berbagai upaya, di
antaranya melalui pendidikan dan upaya sosial lainnya. Selain itu, pendekatan
dari segi kemanan juga terus dilakukan pemerintah. Pendidikan yang sesuai untuk
menekan radikalisme adalah pendidikan Pancasila, karena Pancasila merupakan
pedoman hidup di Indonesia yang mengandung nilai-nilai luhur budaya Indonesia.
Dalam Pancasila tersebut terdapat nilai dan tujuan tertentu. Tujuan dari sila
Pancasila sesuai dengan pembukaan UUD 1945 yaitu “menciptakan masyarakat yang
adil dan makmur”. Sila pertama pancasila mengandung hakikat nilai “Menghormati
perbedaan Agama untuk hidup rukun” contohnya toleransi beragama, selanjutnya
sila ketiga mempunyai hakikat nilai “Mengakui Kebhinnekatunggalikaan,” Dalam
hal ini toleransi beragama erat kaitannya dengan menciptakan persatuan
Indonesia yang kebhinekaan.
Pasca ledakan di Gereja
Oikumene, Kota Samarinda tersebut warga muslim dan TNI berpartisipasi untuk
membersihkan sisa ledakan bom molotov, membersihkan lantai, hingga mengecat
dinding yang terkena dampak ledakan, serta merapikan kursi dalam gereja (Gusti
Nara). Dari kegiatan yang dilakukan warga Muslim tersebut menunjukkan bahwa
warga menanamkan nilai-nilai pancasila dan mengaplikasikan dalam kehidupan
mereka. Sila pancasila yang menggambarkan aktivitas warga muslim membantu
membenahi gereja adalah sila pertama dan sila ketiga, sila pertama mempunyai
hakikat nilai yaitu “mengakui/menghormati pemeluk agama lain agar teciptanya
kerukunan umat beragama” contoh penerapannya adalah toleransi dan saling
membantu walaupun berbeda agama. Kegiatan yang dilakukan warga muslim ini dapat
memperkokoh persatuan Indonesia yang kebhinnekatunggalikaan yang terkandung
pada hakikat nilai sila ketiga. Ini menunjukkan ada keterkaitan antara
sila pertama dan sila ketiga. Dalam
kegiatan warga muslim yang ikut berpartisipasi
membenahi gereja menunjukkan bahwa rakyat tidak mudah terprovokasi
terhadap garis keras tersebut, itu artinya rakyat sudah cukup pintar menilai
bahwa terorisme itu melakukan pengeboman bukanlah umat yang beragama, karena
umat yang beragama tidak mungkin melakukan pembunuhan apalagi di Rumah Ibadah. Jadi,
kesimpulan dalam hal kasus ini peranan Pancasila sangatlah penting bagi
Indonesia, apalagi Pancasila merupakan suatu dasar negara/pedoman hidup bagi
bangsa Indonesia. Pancasila membuat masyarakat untuk lebih kritis dan bijaksana
terhadap suatu permasalahan. Peranan pancasila dalam hidup kita dapat
menciptakan dan mempertahankan persatuan Indonesia yang memiliki masyarakat
majemuk (terdiri dari berbagai suku,budaya,agama dan ras), selain itu dapat
menciptakan kehidupan rakyat Indonesia rukun dan tenteram.
Vivi Yanti
1643050023
Fakultas Farmasi UTA45 Jakarta
Vivi Yanti
1643050023
Fakultas Farmasi UTA45 Jakarta
Tidak ada komentar:
Posting Komentar